msmbindonesia.com, Sukoharjo – Wahtugi Giar, atau biasa dipanggil Pak Giar, merupakan salah satu petani padi di Desa Pojok, Tawangsari, Sukoharjo. Ia menerapkan pemupukan presisi dengan mengikuti rekomendasi pemupukan Jinawi. Saat diwawancara oleh tim MSMB, Kamis (05/01/2023), ia mengatakan telah menggunakan Jinawi selama empat musim tanam. Hasilnya, penggunaan pupuknya lebih hemat, hanya ⅓ dari pemupukan yang dilakukan tanpa Jinawi
Berawal dari petani KUB
Sebelum menjadi petani, Pak Giar bekerja sebagai kuli bangunan. Ia juga sempat merantau untuk mencari penghasilan. Hingga akhirnya, Pak Giar memutuskan untuk fokus menggarap sawahnya selama lima tahun terakhir.
Setelah fokus menjadi petani, Pak Giar bergabung dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di desanya. Dalam KUB tersebut, terdapat lima desa yang tergabung. Tetapi desa Pojok yang terhitung paling aktif dan sering dijadikan tempat perkumpulan KUB. Hal ini yang kemudian mendorong Pak Giar untuk aktif dalam KUB, dan terlibat dalam berbagai program.
Salah satu program dalam KUB tersebut yakni menjadi petani mitra Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Sukoharjo dalam program Implementasi Digital Farming. BI yang saat itu juga bermitra dengan MSMB memperkenalkan Jinawi kepada para petani KUB Sukoharjo.
Jinawi merupakan sistem pintar rekomendasi pemupukan berbasis IoT yang terdiri dari sensor yang terintegrasi dengan aplikasi android RiTx Bertani. Jinawi berfungsi memberikan rekomendasi pemupukan presisi berdasarkan informasi unsur N,P,K dan pH tanah secara real time, serta kebutuhan tanaman.
Berdasarkan pemaparan Pak Giar, 90% petani KUB telah menggunakan Jinawi dan merasakan manfaat dari penerapan pemupukan presisi. Pak Giar pun tertarik untuk mencoba Jinawi pada salah satu petak lahannya seluas 3000 m2 dengan komoditas tanaman padi. Ia berinisiatif untuk coba membandingkan dua lahannya dengan perlakuan yang berbeda. Satu lahan mengikuti rekomendasi pemupukan Jinawi sedangkan lahan yang lain menggunakan pemupukan seperti biasa.
Hemat Pupuk dengan Jinawi
Setelah mengikuti rekomendasi Jinawi, Pak Giar menyadari bahwa tanaman tidak selalu membutuhkan pupuk yang banyak. Ia semakin memahami bahwa pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh kondisi tanah dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi tanaman secara optimal.
“Kalau kita menggunakan ilmu lama, itu yang penting bisa mupuk. Lebih banyak pupuk katanya lebih menghasilkan. Tapi semenjak ada Jinawi itu, hasilnya sama baiknya meskipun pupuknya lebih sedikit,” ungkapnya.
Pak Giar mengaku, penggunaan Jinawi dapat membantunya untuk menghemat pupuk bahkan sampai 1/3 dari pemupukan yang dilakukannya tanpa Jinawi.
“Kita ukurannya per meter, lahan saya itu 3000 m biasanya kita menggunakan total 3 kuintal, pakai Jinawi kita pakai maksimal 1 kuintal itu udah komplit.”
Menurut Pak Giar, di tengah kesulitan petani untuk mengakses subsidi pupuk dan terbatasnya jenis pupuk yang didistribusikan, menggunakan Jinawi dapat membantu meringankan pengeluarannya.
“Lumayan banyak [selisihnya], untuk 3000 m kita beli pupuk subsidi urea dan pupuk majemuk phonska sebanyak 20-30 kg pertahun. Padahal pemupukan cara petani dulu, tidak cukup segitu. Kalau dibandingkan dengan pemupukan menggunakan Jinawi, dari yang semula 3 kuintal menjadi 1 kuintal, sekitar 1 juta [selisihnya]. Jadi kalau dari biaya, lebih ringan menggunakan Jinawi,” terangnya.


Pentingnya Teknologi Bagi Petani
Berdasarkan kondisi tanah di lahan Pak Giar, serta kebutuhan tanaman padi yang ditanam, Jinawi memberikan rekomendasi kadar pemupukan yang lebih rendah dari kadar pemupukan yang biasa dilakukannya. Rendahnya kadar pemupukan ini semula membuat Pak Giar ragu untuk menggunakan Jinawi. Tetapi setelah mencoba, ternyata rekomendasi Jinawi menghasilkan padi yang sama baiknya dengan pemupukan yang biasa dilakukan.
Pak Giar mengatakan, kecanggihan teknologi seperti Jinawi ini perlu terus dikembangkan untuk fungsi-fungsi lainnya dalam pertanian. Karena, di era modern semakin banyak tantangan yang akan dihadapi petani. Sehingga petani perlu beradaptasi dengan teknologi agar tidak tergerus dengan tantangan yang ada.
“Semuanya itu kalau kita belum pernah belajar, belum pernah mencoba, terus terang susah. Tapi saya yakin kalau kita mau belajar, insyaalah mudah,” ujarnya.
Pak Giar berharap, semakin banyak petani yang mau menerapkan smart farming Jinawi dan merasakan manfaat dari pemupukan presisi. Karena petani Indonesia, harus jadi petani pintar!
Foto : M. Fauzi Haidar Hilmi
Artikel : Halimatus Sakdiyah E.M



