Yuk Mengenal Sistem Irigasi Tradisional Subak yang Merupakan Warisan Budaya Dunia Ini!

sistem irigasi Subak diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Organisasi pendidikan, Ilmu pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO - The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). 

msmbindonesia.com Teknologi irigasi ternyata sudah ada sejak zaman dahulu. Salah satunya sistem irigasi subak yang berasal dari Bali. Delapan tahun lalu, tepatnya pada 29 Juni 2012,  sistem irigasi Subak diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Organisasi pendidikan, Ilmu pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO – The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Subak Berpedoman Pada Filosofi Tri Hita Karana

Filosofi Tri Hita Karana merupakan prinsip penting yang dipegang oleh masyarakat Bali. Prinsip ini bermakna sebagai cara yang dilakukan oleh masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan. Termasuk di dalamnya hubungan antar sesama manusia, manusia dengan Tuhan, serta manusia dengan alam sekitar.

[Baca juga : Waspada! Ini yang Terjadi Jika Sistem Irigasi dan Drainase Rusak]

Penerapan prinsip ini pada irigasi subak ditunjukkan dengan lahan yang tidak dapat berdiri sendiri. Semua petak sawah yang ada di sebuah wilayah merupakan satu kesatuan. Dengan demikian, ketika salah satu area sawah mengalami gangguan maka sawah lainnya juga akan terganggu.

Subak, Sistem Irigasi Adil

Sama seperti sistem irigasi lainnya, setiap petani berhak atas bendungan air (pengalapan), parit (jelinjing) dan sebuah saluran air menuju lahan (cakangan). Pembuatan, pemeliharaan dan pengelolaan fasilitas irigasi subak ini dilakukan bersama oleh anggota subak di daerah tersebut.

[Baca juga: Ini Irigasi yang Mudah dan Hemat Air!]

Penggunaan irigasi subak diatur agar terwujud keadilan bagi sesama anggotanya. Jika suatu bidang sawah terdapat dua atau lebih saluran air yang saling berdekatan maka ketinggian saluran harus sama. Hal ini dilakukan agar air yang mengalir ke sawah masing-masing petani tetap lancar. Namun lebar saluran dapat dibedakan berdasarkan luasan petak garapan petani.

Pembangunan Sistem Irigasi Subak Berdasarkan Nilai Religi

Kegiatan dalam perkumpulan subak tidak hanya masalah pertanian tetapi juga urusan peribadatan atau ritual. Hal ini penting dilakukan untuk penerapan irigasi subak untuk memohon rejeki dan kesuburan lahan.

[Baca juga: Smart Farming 4.0 Hadir di Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional XX]

Sawah, tanaman padi, dan air mempunyai peranan penting dalam sistem irigasi subak. Ketiganya berhubungan dengan kekuasaan Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kemakmuran). Setiap pembuatan irigasi subak wajib mendirikan pura. Pura yang biasa disebut dengan Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul ini khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Dewi Sri. Oleh karena itu subak tidak semata hanya mengatur masalah teknis pengaturan dan pembagian air semata, tetapi juga aspek sosial dan religius (agama).