Pestisida Menyebabkan Kanker?


 

Sebagian besar petani Indonesia masih menggunakan pestisida kimia dalam pengendalian hama dan penyakit. Meskipun sudah sesuai dengan Pengendalian Hama Terpadu (HPT), namun penggunaan pestisida kimia tetap berbahaya. Pestisida dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, serta menurunnya kualitas kesehatan manusia dan hewan ternak.

 

Mengakibatkan Berbagai Macam Jenis Kanker

Pestisida mengandung bahan kimia yang beracun. Sifat racun ini tak hanya untuk hama dan penyakit, tapi juga manusia. Biro Penelitian Statistik Amerika Serikat menyatakan bahwa petani yang menggunakan pestisida kimia memiliki risiko terpapar penyakit kanker lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja industri lainnya. Beberapa jenis kanker, seperti kanker kulit, kanker prostat, leukemia, kanker hati, kanker otak, kanker lambung dan kanker bibir.

 

Tak Hanya Ancam Petani

Paparan senyawa kimia berbahaya tidak hanya dirasakan langsung oleh para petani. Warga di sekitar lahan pertanian pun berpotensi besar dapat terkena kanker serupa. Air dan produk pertanian yang banyak dikonsumsi oleh warga di sekitar lingkungan pertanian telah terkontaminasi dengan pestisida dan bahan kimia pertanian lainnya.

 

Residu pestisida juga mencemari udara di sekitar lahan pertanian. Hal ini tentu secara tidak langsung dapat terhirup oleh warga meski tidak terlibat langsung dalam kegiatan pertanian. Bahkan, residu pestisida dapat menempel di dalam ruangan.

 

 

Mari Beralih ke Pestisida Alami

Pestisida alami aman untuk lingkungan. Pestisida ini mudah terurai di alam sehingga residu yang dihasilkan dapat hilang dengan cepat. Tetapi pada penerapannya, penggunaan pestisida alami tetap harus dibawah pengawasan. Disarankan pengaplikasian pestisida alami harus sesegera mungkin ketika selesai dibuat karena pestisida alami tidak bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama.

 

Pembuatan pestisida alami ini dapat menggunakan tumbuhan atau mikroorganisme. Tanaman yang dapat dijadikan bahan pembuat pestisida, antara lain bawang putih, pandan, kemangi, cabe rawit, tembakau, kunyit, kenikir, daun mimba, serai, dan lengkuas. Namun, penggunaan jenis tanaman harus disesuaikan dengan hama yang menyerang agar lebih efektif. Misalnya, hama wereng bisa menggunakan ramuan campuran daun sirsak, bawang putih dan rimpang.

 

Mikroorganisme yang umum digunakan adalah trichoderma. Trichoderma dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman, seperti layu fusarium pada tanaman cabai, penyakit jamur akar putih pada tanaman mangga, dan penyakit busuk pelepah pada jagung.

 

Sumber :

http://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-terbaru/326-penggunaan-pestisida-harus-berdasarkan-pada-enam-tepat.html

http://www.sustainableproduction.org/downloads/AgricultureandCancer_001.pdf

http://kalteng.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi-mainmenu-47-47/teknologi/332-pestisida-nabati-pembuatan-dan-manfaat13

http://distankp.tegalkab.go.id/index.php/artikel/135-biopestisida-pilhan-tepat-pengendalian-organisme-pengganggu-tanaman